Tampilkan postingan dengan label SEJARAH. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 April 2015
WANA WISATA PANTAI BENTAR PROBOLINGGO
Wilayah Probolinggo dikelilingi Gunung Agropuro, Gunung Semeru dan Pegunungan Tengger. Probolinggo punya garis pantai, sebelah utaranya berbatasan dengan Selat Madura, sebelah selatan Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, sebelah timur Kabupaten Situbondo dan Jember , sebelah barat Kabupaten Pasuruan. Konon nama Probolinggo berasal dari kata Prabu Linggih PPPPalias raja duduk, karena dulu Raja Majapahit pernah duduk di situ dan terlena melihat pemandangannya yang indah.
Tujuan Wisata Probolinggo beragam, mulai dari pantai, pemandangan alam dan kesenian rakyat. Berikut ini 9 Tujuan Wisata Kota Probolinggo :
- Pantai bentar
- Gunung Bromo
- Gunung Argopuro
- Pulau Gili Ketapang
- Ranu Segaran
- Candi Jabung
- Air Panas Desa Tiris
- Air Terjun Madakaripura
- Arung Jeram Sungai Pekalen
Sebuah pantai yang bernama Bentar Indah merupakan salah satu objek wisata alam yang juga menjadi primadona dari keindahan alam kota Probolinggo. Pantai Bentar Indah terletak sekitar 7 kilometer di sebelah timur kota Probolinggo, tepatnya di Kecamatan Gending, Probolinggo, Jawa Timur. Pantai ini menjadi primadona objek wisata karena letaknya yang cukup strategis di pinggir jalan jalur utama Jakarta – Banyuwangi.
Pantai Bentar Indah sebenarnya menawarkan keindahan yang jarang dimiliki oleh pantai-pantai di Indonesia. Hutan bakau di sebelah timur pantai menambah keindahan Pantai Bentar Indah. Kemudian, sebuah bukit yang terletak di seberang Pantai Bentar Indah, membuat pantai ini terlihat seakan menyatu dengan alam sekitar. Sebuah pemandangan fantastis yang memadukan antara keindahan pantai dan keasrian alam sekitar.
Dibalik semua keindahan alam serta kelengkapan fasilitas yang dimiliki Pantai Bentar Indah, rupanya Pemerintah Kabupaten Probolinggo belum sepenuhnya serius mengelola pantai yang memiliki potensi wisata cukup besar ini. Tidak terawatnya beberapa fasilitas menjadi bukti kurang seriusnya pihak pengelola Pantai Bentar Indah. Dengan kondisi tersebut, wajar saja jika Pantai Bentar Indah tidak terlalu ramai dikunjungi wisatawan, walaupun tiket masuknya relatif murah, yaitu Rp. 3.000 / orang.
Tanah Probolinggo cukup subur dari tanahnya muncul budidaya berbagai tanaman, seperti tembakau , anggur, mangga, tebu, semangka, pohon jati. Probolinggo juga menghasilkan emas, mangaan, belerang, pasir, tembaga, biji besi, sulfur, dan belerang. Karena punya pantai, sudah pasti Probolinggo menghasilkan udang dan ikan laut .
ASAL USUL TARI GANDRUNG BANYUWANGI
Mendengar kata ‘Gandrung’ orang akan berpikir tentang arti kata dalam bahasa indonesia, yaitu suka, tergila-gila, atau idola . Jangan salah, jika tari gandrung adalah suatu budaya titisan nenek moyang yang menyuguhkan tarian yang bisa membuat penikmat seni menjadi ‘Gandrung’ atau terpikat oleh gerakan, musik, dan para penari-penarinya. Ternyata tarian khas Banyuwangi yang pernah tampil di berbagai negara ini memiliki cerita dan sejarah yang unik .
Oleh masyarakat Banyuwangi, kata “”Gandrung”” diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat kota Blambangan. Tari Gandrung dipertontonkan sebagai wujud syukur atas hasil panen .
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yang bernama Marsan .
Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang (penari) sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita .
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat .
Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20 .
Tari Gandrung masih satu Genre dengan beberapa tarian seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan). Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju” Kesenian ini masih satu bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi .
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using .
Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari .
Sebagai anak bangsa yang cinta akan tanah leluhurnya, sepatutnya kita jaga kelestarian akan budaya bangsa ini tanpa mengenal Ras dan suku. Kita adalah satu, yaitu bangsa indonesia yang Bhineka Tunggal Ika ....
Rabu, 25 Maret 2015
TIPS MENJAGA MATA
Mata merupakan organ pada tubuh kita yang sangat berharga. Dengan memiliki mata yang sehat, maka kita dapat melihat keindahan dunia beserta isinya. Untuk itulah, kita harus menjaga dan merawat kesehatan mata agar tidak mengalami berbagai penyakit atau masalah kesehatan lainnya seperti rabun jauh, presbiopi, miopi maupun hipermetropi. Lalu, adakah tips mudah menjaga kesehatan mata tersebut ?
Sahabat, tips kesehatan . Banyak sekali penyakit mata yang mungkin tidak asing di telinga kita seperti miopi atau rabun jauh, presbiopi atau tidak dapat melihat benda yang berjarak jauh maupun dekat, katarak, hipermetropi atau rabun dekat, maupun buta warna yang tidak dapat membedakan aneka warna. Berbagai penyebab penyakit tersebut dapat menimpa mata anda. Seperti miopi yang banyak menimpa kalangan pelajar dan mereka yang sangat hobi dalam membaca buku. Untuk lebih memahami dan mengerti cara menjaga kesehatan mata yang benar. Berikut ini 7 tips mudah menjaga kesehatan mata anda :
- Perhatikan Jarak Membaca Buku. Usahakan membaca buku pada jarak yang ideal. Jarak ideal yang dimaksud yaitu membaca buku pada jarak 30 cm dari buku ke mata. Hal ini untuk mencegah penyakit mata seperti miopi atau rabun dekat.
- Jangan Sambil Tiduran. Usahakan tidak membaca buku atau teks apapun dalam kondisi sambil tiduran. Ini juga dapat membuat kesehatan mata terganggu seperti dapat terkena miopi.
- Pencahayaan Yang Cukup. Jangan menggunakan penerangan terlalu redup ketika belajar atau membaca apapun itu. karena penerangan yang kurang dapat menganggu kesehatan mata.
- Istirahatkan Mata. Usahakan mengistirahatkan mata, ketika sudah terlalu lama di depan layar komputer atau laptop saat mengerjakan tugas atau aktivitas apapun di komputer atau laptop. Ini juga sangat penting untuk menjaga kesehatan mata anda.
- Jangan Kucek Mata. Usahakan tidak mengucek mata, ketika tangan dalam keadaan kotor atau habis memegang sesuatu benda. Karena tangan yang kotor dapat menginfeksi organ mata yang akan berakibat sangat buruk untuk kesehatan mata anda.
- Kedipkan Mata. Usahakan mengedipkan mata dengan intensitas agak ditambah, pada saat fokus melihat sesuatu terlalu lama seperti komputer ataupun laptop.
- Makanan Untuk Mata. Usahakan memakan makanan yang sangat baik untuk kesehatan mata. Dalam hal ini, wortel merupakan jenis makanan yang paling baik untuk kesehatan mata, karena banyak mengandung vitamin A yang sangat baik untuk kesehatan mata.
Kamis, 19 Maret 2015
FAKTA-FAKTA KOTA BANYUWANGI
Banyuwangi pernah dikenal sebagai kota pisang. Sebutan ini bermula dengan banyaknya tanaman pisang di Banyuwangi sekitar tahun 1980-an. Pada saat itu penduduk Banyuwangi banyak yang menanam pohon pisang di pekarangan rumah maupun kebun miliknya. Salah satu pisang Banyuwangi yang populer adalah pisang sobo, yang di daerah lain disebut pisang kapok atau pisang kapuk.
Prestasi Banyuwangi sebagai daerah produsen padi sudah teruji. Jika Jawa Timur adalah lumbung padi nasional, karena tercatat sebagai provinsi penghasil beras tertinggi di Indonesia, sebanyak 1,1 juta ton, maka Banyuwangi adalah lumbung padi Jawa Timur. Bahkan sumbangsih produksi beras dari banyuwangi cukup signifikan dalam menyokong penyediaan beras nasional.
Banyuwangi memiliki sejumlah pantai yang terkenal dengan keindahan dan keunikannya. Misalnya Pantai Plengkung yang disukai para selancar profesional karena ombaknya yang berkelas dunia, begitu juga dengan pantai Pulau Merah yang tekstur pantai dan gelombangnya tidak kalah menawan, terdapat Penangkaran penyu di Sukamade dan pantai Ngagelan, Gugusan karang yang indah di Wongsorejo, hutan mangrove di Bedul yang memiliki 27 jenis mangrove terlengkap di Indonesia, pantai Rajekwesi yang pasirnya memiliki kandungan biji besi, pantai Pancur dengan pasir gotrinya, pantai Triangulasi dengan pasir putihnya dan keindahan panoramanya, pantai Parang Ireng dengan pasirnya yang hitam legam, pantai Teluk Hijau dengan airnya yang berwarna kehijauan.
Banyuwangi adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang memiliki 3 Taman Nasional di wilayahnya. Yaitu Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Baluran. Secara geografis Banyuwangi juga memiliki potensi alam yang lengkap: di sebelah barat terdapat gugusan pegunungan Ijen, laut Selat Bali di sebelah timur, hutan belantara di sisi selatan dan utara, dan pantai dengan ombak yang bergulung-gulung di sebelah selatan yang berbatas dengan lautan Hindia. Kondisi tersebut menunjukkan kekayaan alam Banyuwangi yang luar biasa, yang sangat potensial dikembangkan sebagai industri pariwisata yang menawarkan sejuta petualangan. Banyuwangi dengan kekayaan laut, gunung dan hutan adalah surganya wisata petualang alam yang lengkap.
Banyuwangi Ijo Royo-Royo (BIRR) adalah suatu program penghijauan dari Pemkab Banyuwangi dibawah pimpinan Bupati Ratna Ani Lestari yang bertujuan untuk menciptakan Banyuwangi yang indah, teduh, sejuk dan ijo royo-royo, tidak banjir ketika hujan karena semua wilayah sudah ditanami pohon-pohon penahan erosi, sehingga diharapkan ke depan Banyuwangi bebas dari banjir.
Sejarah berdirinya Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kerajaan Blambangan, karena Blambangan merupakan cikal bakal dari Banyuwangi. Blambangan adalah kerajaan yang semasa dengan kerajaan Majapahit bahkan dua abad lebih panjang umurnya. Blambangan adalah kerajaan yang paling gigih bertahan terhadap serangan Mataram dan VOC serta Blambanganlah kerajaan yang paling akhir ditaklukkan penjajah Belanda di pulau Jawa. Keruntuhan Blambangan dimulai dengan invasi VOC untuk menguasai bumi Blambangan yang sebelumnya menjalin hubungan dagang dengan Inggris. VOC tidak menginkan Blambangan yang saat itu sudah mulai berkembang menjadi pusat perdagangan dikuasai Inggris. Hal ini menyulut perang besar selama lima tahun (1767-1772).
Dalam peperangan itu terdapat satu pertempuran dahsyat yang disebut Puputan Bayu sebagai merupakan usaha terakhir Kerajaan Blambangan untuk melepaskan diri dari belenggu VOC. Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan VOC, yang sekaligus menandai berakhirnya kerajaan Blambangan. Selanjutnya VOC mengangkat R. Wiroguno I (Mas Alit) sebagai bupati Banyuwangi pertama. Dan peristiwa perang Puputan Bayu yang mencapai puncaknya pada tanggal 18 Desember 1771 ini, kemudian dijadikan sebagai hari jadi Banyuwangi.
Dengan demikian, menyebut Banyuwangi sebagai bumi Blambangan sesungguhnya menyiratkan upaya mengingatkan generasi muda Banyuwangi untuk tidak melupakan tentang sejarah, asal-usul dan latar belakang berdirinya Kabupaten Banyuwangi yang kita kenal sekarang. Bahwa Banyuwangi tidak lain adalah Blambangan di masa lampau.
Gandrung adalah kesenian tari yang sangat populer di Banyuwangi. Kata “Gandrung” diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen.
Tari Gandrung lahir dan tumbuh pesat di Banyuwangi. Di sekolah-sekolah, tarian ini banyak diajarkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler, begitu juga di masyarakat banyak sanggar-sanggar tari yang melestarikannya. Tari Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, petik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi.
Ini adalah sebutan baru untuk Banyuwangi. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggunakan tagline baru tersebut untuk mempromosikan Banyuwangi sebagai destinasi wisata. Sebutan ini menggambarkan bahwa Banyuwangi merupakan tempat terbitnya mentari pagi pertama di Pulau Jawa. Di saat orang-orang di kota lain di pulau jawa masih terlelap dalam tidurnya, masyarakat Banyuwangi sudah menikmati hangatnya sinar mentari pagi. Letak Banyuwangi yang berada di ujung paling timur Pulau Jawa, sangat pas dengan dengan jargon ini. Karena tidak ada satu pun daerah lain di Pulau Jawa yang bisa mengklaimnya selain Banyuwangi.
Dari semua julukan untuk Banyuwangi, mungkin yang masih belum banyak diketahui dan perlu banyak sosialisasi adalah sebutan Banyuwangi Kota Kopi. Banyuwangi sebagai Kota Kopi bukanlah sebutan yang mengada-ada. Ada berbagai alasan yang kuat untuk mengukuhkan sebutan Kota Kopi untuk Banyuwangi, diantaranya :
- Banyuwangi dikenal sebagai daerah penghasil kopi berkualitas tinggi. Kopi Banyuwangi telah diakui sebagai salah satu kopi terbaik di dunia. Kualitas kopi Banyuwangi berada di peringkat 4 setelah Jamiaca, Hawai dan Toraja. Pada ajang Miss Coffee International 2012 yang berlangsung di Bali, para peserta yang berasal dari seluruh dunia diajak berkunjung ke Banyuwangi untuk mengenal kopi Banyuwangi. Mereka belajar menyangrai dan meracik kopi di desa Kemiren, dan meninjau perkebunan kopi di lereng gunung Ijen. Dipilihnya Banyuwangi karena dianggap memiliki kopi Robusta dan Arabica dengan kualitas rasa yang unik untuk dikenalkan kepada dunia. Ini menunjukkan bahwa kopi banyuwangi, selain mempunyai potensi besar untuk dikembangkan, juga memiliki kualitas yang baik
- Kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang khas dan unik, terutama kopi yang dihasilkan dari perkebunan yang berada di sisi timur dan sisi barat Gunung Ijen. Kopi yang dihasilkan antara sisi barat dan timur Gunung Ijen memiliki rasa yang berbeda. Perkebunan di sisi Timur menghadap laut dipengaruhi angin laut dan mendapat sinar matahari yang lebih banyak, sehingga kadar garamnya tinggi. Sebaliknya perkebunan di sisi barat dipengaruhi oleh angin gunung. Namun keduanya menghasilkan kopi yang sama enaknya dan bercita rasa tinggi.
Berawal dari sukses penyelenggaraan kegiatan budaya Banyuwangi Ethno Carnival pertama pada tahun 2011 lalu, maka pada tahun-tahun berikutnya seakan tak terbendung lagi semangat dan kegairahan masyarakat Banyuwangi untuk mengangkat potensi dan budaya daerah melalui rangkaian kegiatan yang dikemas dalam tajuk BANYUWANGI FESTIVAL.
Di kota lain juga punya acara festival. Tapi Festival Banyuwangi berbeda. Karena berlangsung selama 4 bulan berturut-turut, dengan tema dan segmen beragam.
Maka sejak 2012 acara Banyuwangi Ethno Carnival ditahbiskan menjadi agenda tahunan berbarengan dengan kegiatan lain, baik yang bersifat seni, etnik budaya, fashion, sport tourism sampai religi.
Dalam Banyuwangi Festival berbagai ragam acara disajikan sebagai bentuk etalase besar dari potensi wisata dan kekayaan budaya Banyuwangi yang beragam, lengkap dengan kehidupan sosial-budaya masyarakatnya yang terbuka, egaliter, dan mempunyai jiwa seni yang kuat. Sedikitnya ada 8 acara festival yang diadakan di Banyuwangi dalam satu tahun. Diantaranya Banyuwangi Ethno Carnival, Festival Batik, Festival Anak Yatim, Festival Jazz, Festival Kemiren, Festival Pemuda, Festival Kuliner, dan Festival Kuwung.
Itulah sedikit fakta dari kota banyuwangi . TERIMA KASIH
Senin, 09 Maret 2015
SEJARAH KOTA SURABAYA
Nama Surabaya muncul sejak awal pertumbuhan kerajaan Majapahit. Nama Surabaya diambil dari simbol ikan Sura dan Buaya. Simbol itu sesungguhnya untuk menggambarkan peristiwa heroik yang terjadi di kawasan Ujung Galuh (nama daerah Surabaya di masa silam), yakni pertempuran antara tentara yang dipimpin Raden Widjaja dengan pasukan tentara Tar Tar pada tanggal 31 Mei 1293. Tanggal itulah yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Surabaya.
Pertarungan antara ikan Hiu yang bernama Sura dan Buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Oleh karena itu,nama Surabaya selalu dikait-kaitkan dengan peristiwa ini. Dari peritiwa inilah kemudian dibuat lambang Kota Surabaya yaitu gambar "ikan sura dan buaya". Namun ada juga sebahagian berpendapat, asal usul Surabaya berasal dari kata Sura dan Baya. Sura berarti Jaya atau selamat. Baya berarti bahaya, jadi Surabaya berarti "selamat menghadapi bahaya". Bahaya yang dimaksud adalah serangan tentara Tar-tar yang hendak menghukum Raja Jawa.Seharusnya yang dihukum adalah Kartanegara, karena Kartanegara sudah tewas terbunuh, maka Jayakatwang yang diserbu oleh tentara Tar-tar itu. Setelah mengalahkan Jayakatwang, orang Tar-tar itu merampas harta benda dan puluhan gadis-gadis cantik untuk dibawa keTiongkok. Raden Wijaya tidak terima diperlakukan seperti itu. Dengan siasat yang jitu, Raden Wijaya menyerang tentara Tar-tar di pelabuhan Ujung Galuh hingga mereka menyingkir kembali ke Tiongkok. Selanjutnya, dari hari peristiwa kemenangan Raden Wijaya inilah ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya. Surabaya sepertinya sudah ditakdirkan untuk terus baergolak.Tanggal 10 November 1945 adalah bukti jati diri warga Surabaya yaitu berani menghadapi bahaya serangan Inggris dan Belanda. Di zaman sekarang, setelah ratusan tahun dari cerita asal usul Surabaya tersebut, ternyata pertarungan memperebutkan wilayah air dan darat terus berlanjut. Di kalamusim penghujan tiba kadangkala banjir menguasai kota Surabaya. Pada musim kemarau kadangkala tempat-tempat genangan air menjadi daratan kering.
Awalnya Surabaya adalah kawasan perkampungan atau pedesaan di pinggiran sungai. Nama-nama kampung yang kini masih ada seperti Kaliasin, Kaliwaron, Kalidami, Ketabangkali, Kalikepiting, Darmokali, dan sebagainya adalah bukti yang menjelaskan bahwa kawasan Surabaya adalah kawasan yang memiliki banyak aliran air / sungai. Secara geografis ini sangat masuk akal, karena memang kawasan Surabaya merupakan kawasan yang berada di dekat laut dan aliran sungai besar (Brantas, dengan anak kalinya).
Lokasi Surabaya yang berada di pinggir pantai, merupakan wilayah yang menjadi lintasan hilir mudik manusia dari berbagai wilayah. Surabaya, menjadi pertemuan antara orang pedalaman pulau Jawa dengan orang dari luar. Pada tahun 1612 Surabaya sudah merupakan bandar perdagangan yang ramai. Peranan Surabaya sebagai kota pelabuhan sangat penting sejak lama. Saat itu sungai Kalimas merupakan sungai yang dipenuhi perahu-perahu yang berlayar menuju pelosok Surabaya.
SEJARAH KOTA MALANG
Kota Malang, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kota ini berada di dataran tinggi yang cukup sejuk, terletak 90 km sebelah selatan Kota Surabaya, dan wilayahnya dikelilingi oleh Kabupaten Malang. Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur, dan dikenal dengan julukan kota pelajar.
Wilayah cekungan Malang telah ada sejak masa purbakala menjadi kawasan pemukiman. Banyaknya sungai yang mengalir di sekitar tempat ini membuatnya cocok sebagai kawasan pemukiman. Wilayah Dinoyo dan Tlogomas diketahui merupakan kawasan pemukiman prasejarah. Selanjutnya, berbagai prasasti (misalnya Prasasti Dinoyo), bangunan percandian dan arca-arca, bekas-bekas pondasi batu bata, bekas saluran drainase, serta berbagai gerabah ditemukan dari periode akhir Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8 dan ke-9) juga ditemukan di tempat yang berdekatan.
Walaupun nama Malang telah mendarah daging bagi penduduknya, tetapi nama tersebut masih terus merupakan tanda tanya. Para ahli sejarah masih terus menggali sumber-sumber untuk memperoleh jawaban yang tepat atas pernyataan tersebut di atas. Sampai saat ini telah diperoleh beberapa hipotesa mengenai asal-usul nama Malang tersebut. Malangkucecwara yang tertulis di dalam lambang kota itu, menurut salah satu hipotesa merupakan nama sebuah bangunan suci. Nama bangunan suci itu sendiri diketemukan dalam dua prasasti Raja Balitung dari Jawa Tengah yakni prasasti Mantyasih tahun 907, dan prasasti 908 yakni diketemukan di satu tempat antara Surabaya-Malang. Namun demikian dimana letak sesungguhnya bangunan suci Malangkucecwara itu, para ahli sejarah masih belum memperoleh kesepakatan. Satu pihak menduga letak bangunan suci itu adalah di daerah gunung Buring, satu pegunungan yang membujur di sebelah timur kota Malang dimana terdapat salah satu puncak gunung yang bernama Malang. Pembuktian atas kebenaran dugaan ini masih terus dilakukan karena ternyata, disebelah barat kota Malang juga terdapat sebuah gunung yang bernama Malang.
Pihak yang lain menduga bahwa letak sesungguhnya dari bangunan suci itu terdapat di daerah Tumpang, satu tempat di sebelah utara kota Malang. Sampai saat ini di daerah tersebut masih terdapat sebuah desa yang bernama Malangsuka, yang oleh sebagian ahli sejarah, diduga berasal dari kata Malankuca yang diucapkan terbalik. Pendapat di atas juga dikuatkan oleh banyaknya bangunan-bangunan purbakala yang berserakan di daerah tersebut, seperti candi Jago dan candi Kidal, yang keduanya merupakan peninggalan zaman kerajaan Singasari.
Dari kedua hipotesa tersebut di atas masih juga belum dapat dipastikan manakah kiranya yang terdahulu dikenal dengan nama Malang yang berasal dari nama bangunan suci Malangkucecwara itu. Apakah daerah di sekitar Malang sekarang, ataukah kedua gunung yang bernama Malang di sekitar daerah itu.
Sebuah prasasti tembaga yang ditemukan akhir tahun 1974 di perkebunan Bantaran, Wlingi, sebelah barat daya Malang, dalam satu bagiannya tertulis sebagai berikut : “..taning sakrid Malang-akalihan wacid lawan macu pasabhanira dyah Limpa Makanagran I... ”. Arti dari kalimat tersebut di atas adalah : “... di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang bersama wacid dan mancu, persawahan Dyah Limpa yaitu …”
Dari bunyi prasasti itu ternyata Malang merupakan satu tempat di sebelah timur dari tempat-tempat yang tersebut dalam prasasti tiu. Dari prasasti inilah diperoleh satu bukti bahwa pemakaian nama Malang telah ada paling tidak sejak abad 12 Masehi.
Hipotesa-hipotesa terdahulu, barangkali berbeda dengan satu pendapat yang menduga bahwa nama Malang berasal dari kata “Membantah” atau “Menghalang-halangi” (dalam bahasa Jawa berarti Malang).
Kota malang mulai tumbuh dan berkembang setelah hadirnya pemerintah kolonial Belanda, terutama ketika mulai di operasikannya jalur kereta api pada tahun 1879. Berbagai kebutuhan masyarakatpun semakin meningkat terutama akan ruang gerak melakukan berbagai kegiatan. Akibatnya terjadilah perubahan tata guna tanah, daerah yang terbangun bermunculan tanpa terkendali. Perubahan fungsi lahan mengalami perubahan sangat pesat, seperti dari fungsi pertanian menjadi perumahan dan industri.
Rabu, 04 Maret 2015
SEJARAH BECAK
Kemunculan kendaraan beroda tiga yg ditarik dengan tenaga manusia itu pertama kalinya hanya kebetulan . Tahun 1869 seorang pria amerika yg menjabat pembantu di kedutaan besar amerika serikat di jepang berjalan-jalan menikmati pemandangan kota yokohama .Suatu saat ia berpikir bagaimana cara istrinya yg kakinya cacat bisa ikut jalan-jalan ? tentu diperlukan sebuah kendaraan .
Kendaraan itu pikirnya tidak usah ditarik kuda karena hanya untuk satu penumpang saja . Kemudian ia mulai menggambar kereta kecil tanpa atap diatas secarik kertas . Orang-orang jepang yg melihat kendaraan pribadi ditarik manusia itu menamakannya JINRIKISHA . Penarik jinrikisha biasanya diberi upah tiap minggu . Lama-lama jinrikisha menarik perhatian masyarakat jepang , khususnya para bangsawan .
Pada tahun 1800-an jinrikisha akhirnya sampai ke telinga masyarakat di china . hingga dalam waktu singkat , jinrikisha dikenal sebagai kendaraan pribadi kaum bangsawan dan kendaraan umum . Kendaraan ini diberi nama RICKSHAW sementara penghelanya disebut HIKI . Tapi, lama-lama para pemerhati kemanusiaan dichina iba melihat para hiki yg kerja bagaikan kuda itu . Mulai 1870 rickshaw dilarang beroperasi diseluruh jalan-jalan negeri china . Sedangkan jinrikisha dijepang sebelumnya sudah lama dilarang . Diilhami jinrikisha dan rickshaw , tiba-tiba saja sekitar tahun 1941 untuk pertama kalinya dikota-kota besar diindonesia muncul BECAK .
SUMBER : Awal Mula Sejarah
Langganan:
Postingan
(
Atom
)


















